Bagaimana rasanya jadi ayah tunggal yang anaknya lebih pintar dari dirinya? Itu yang dihadapi seorang pria biasa ketika putrinya yang baru berusia 5 tahun sudah bisa memecahkan soal kalkulus dan membaca buku filsafat. Hari-harinya dipenuhi kekacauan lucu: sang bayi jenius menganalisis menu sarapan, mengkritik gaya mengajarnya, dan sesekali mempermalukannya di depan guru TK. Tapi di balik tawa, ada kecemasan diam-diam. Anak itu mulai bertanya tentang ibunya yang tak pernah ada, dan sang ayah sadar rahasia yang ia pendam mungkin lebih besar dari kecerdasan putrinya sendiri.