Judul yang terdengar seperti kutukan atau candaan keluarga kecil di pinggiran kota. Seorang ibu tengah bertarung melawan kemiskinan yang menyengsarakan, sementara anaknya bersembunyi di balik kata-kata yang tampak tidak nyambung. Setiap kata dalam judul ini terasa seperti petunjuk, seperti ada cerita yang belum selesai. Tapi siapa yang benar-benar menulisnya, dan mengapa ia terdengar sekaligus menyakitkan?