Dia pernah berjanji takkan pernah kembali ke kota yang sama. Tapi tiga tahun setelah menghilang tanpa jejak, ia justru muncul di depan rumahnya — dengan gaya nyaris mencurah, tersenyum lepas, dan dompet yang pasti bukan miliknya. Kini ia makan semua makanan di meja, pakai kopi yang dicuci ulang, dan duduk di sofa yang dulunya miliknya. Setiap langkahnya terasa sekaligus mengganggu dan mengingatkan pada sesuatu yang pernah terjadi. Siapa sangka orang yang pernah hilang justru kembali sebagai penjual kehidupan yang dicuri?