Sepenuhnya dibangun dari beton dan bayangan, sebuah kampung kecil di pinggir kota yang tak pernah masuk rencana pemkot. Di sana tinggal Lina, ibu tunggal yang ngemilku, dan kakak beradik kecil yang belum pernah ke sekolah. Setiap pagi ia bangun sebelum matahari, bawa bekal dari sisa semalam, dan jualan nasi goreng di trotoar. Harga naik, biaya listrik melonjak, tapi senyumnya tetap lebar — sampai seorang warga kaya mulai datang, bukan untuk beli, tapi untuk membagi. Ternyata kebaikan kecil yang diberikan tanpa pamrih justru menggoyang seluruh jaringan ketergantungan yang menyimpan kampung ini. Siapa sangka kemiskinan yang terasa seperti tembok justru runtuh dari dalam, dimulai dari satu nasi goreng yang dibagikan gratis.