Langit menjelma biru kelam saat mobil terbuka melaju melintasi jalan menyempit di kaki gunung. Tujuh penumpangnya tak kebetulan—dari kota, dari desa, dari mana saja—semua bersama-sama mencari jalan pintas ke puncak. Jalan yang sesuai. Atau setidaknya itulah yang terlihat wajar. Tapi setiap belokan membuat GPS semakin bersuara, dan setiap rerongga di antara pohon terasa mengelus dagu. Ada yang bicara soal rasa bersalah, ada yang diam sambil memegang koak erat-erat. Di tengah hutan, lampu jalan tiba-tiba padam. Dan ketika satu dari mereka menemukan jejak sepatu di lumpur—bukan jejak biasa, melainkan pola yang terlalu rapi untuk ditinggalkan sembarangan—pertanyaan muncul: siapa yang benar-benar mengatur rute ini? Lalu kenapa suara navigasi tak pernah salah?