Hari Kamis yang biasa saja selama seminggu terakhir terasa seperti kanvas kosong — hujan gerimis yang menempel di jendela kantin, senyum teman sekelas yang tak pernah kamu ajak ngobrol, dan detak jantung yang ngegolak tiap kamu lewat di dep ofisi kopi. Tiba-tiba, Xanana diingatkan bahwa ada seseorang yang baru saja pindah ke apartemen di atasnya, dan suaranya yang rendah dan sering terpotong di malam hari mulai mengganggu rutinitasnya. Apakah itu hanya suara penghuni baru, atau ada sesuatu yang ingin disampaarkan — mungkin saja kebenyakan karena kamu sendiri yang sedang meletakkannya? Namun, ketika suara itu berubah menjadi langkah kaki di atas kepalamu pada malam hari, kamu mulai curiga bahwa Hari Kamis sengaja memilihmu sebagai saksi bisikan yang tidak pernah seharusnya terjadi.