Di sebuah kafe kecil di pinggir kota yang tak pernah ramai, Kenzo bertemu dengan Maya, seorang musisi jazz yang kembali ke kampung halamannya setelah lima tahun menghilir. Mereka duka, saling mengisi kekosongan yang tak terucapkan dengan aroma kopi senja, hingga akhirnya ujung-ujungnya mereka memilih untuk tidak mengungkapkan apa-apa, karena siapa sangka sebuah secarik catatan lama di sampul buku jazz bisa menjadi kunci untuk mengingatkan bahwa takdir tak selalu datang dengan gemerlap, tapi kadang hanya dengan bisikan kopi yang menguar di antara senarai jazz.