Pernikahan yang seharusnya jadi pelabuhan aman, justru berubah jadi medan perang harian. Dua insan yang dulu saling jatuh cinta, kini saling melontarkan kata-kata tajam di meja makan, di kamar tidur, bahkan di depan anak-anak. Pertengkaran kecil selalu berakhir dengan diam yang mencekam, dan diam itu semakin lama semakin lebar. Tidak ada kekerasan fisik, tapi luka yang ditorehkan jauh lebih dalam dari yang terlihat. Mereka bertahan, bukan karena masih cinta, tapi karena takut memulai hidup sendiri. Pertanyaannya, sampai kapan perang dingin ini akan berakhir, dan siapa yang berani meletakkan senjata duluan? Atau justru kehancuran yang akan memaksa mereka berhenti?