Judul ini terdengar seperti pernyataan, bukan janji. Tangan kiri sering dianggap sebagai simbol ketidakberuntungan atau keanehan, tapi di sini ia jadi harga yang harus dibayar untuk kebenaran. Tanpa detail plot yang tersedia, kita hanya bisa membayangkan sebuah kisah yang menggeliat di antara moral dan pilihan. Mungkin ada tokoh yang rela mengorbankan sesuatu yang berharga demi fakta yang ia yakini. Mungkin juga ada rahasia yang disimpan di balik tangan yang salah. Yang jelas, kebenaran tidak pernah datang dengan gratis, dan kadang yang kita korbankan justru bagian dari diri sendiri. Pertanyaannya, sampai di mana batas seseorang mempertahankan keyakinan?