Benci nggak selalu berakhir sesuai rencana. Dua orang yang nggak pernah akur sejak hari pertama dipertemukan lagi dalam situasi yang memaksa mereka kerja sama — atau setidaknya, pura-pura rukun. Gengsi terlalu tinggi dan sejarah di antara mereka terlalu panjang untuk diabaikan. Setiap percakapan berakhir sarkas, setiap tatapan terasa tantangan. Diam-diam, di balik permusuhan itu, ada sesuatu yang tumbuh tanpa izin. Siapa duluan yang menyerah — ego mereka, atau perasaan yang sama sekali nggak mereka rencanakan.