Sakit, sendirian, terus dipermalukan. Begitulah keseharian seorang istri yang pernikahannya justru runtuh saat dia paling butuh dukungan. Suaminya tak pernah benar-benar melihatnya, sampai satu diagnosis kritis menghentikan segalanya. Diam-diam rasa bersalah mulai menggerogoti sang suami, tapi penyesalan datang di saat paling kejam — ketika orang yang disakiti nyaris tak punya waktu tersisa. Apakah maaf masih bermakna kalau waktunya sudah hampir habis?