Nama panglima itu muncul dari balik spanduk buruh, bukan dari barak militer. Seorang pemimpin pasukan memilih turun ke jalan dan membaur dengan pekerja kasar, meninggalkan seragam dinasnya untuk baju lusuh penuh keringat. Keputusan itu memicu gesekan di lingkaran atas, sementara di bawah, rakyat kecil mulai berani berharap. Tidak ada yang tahu apakah ini awal perlawanan atau justru jebakan politik. Dan ketika panggilan tugas kembali datang, dia harus memilih antara dua kesetiaan yang sama-sama berat.