Ada satu kursi kosong di meja keluarga, dan semua orang tahu siapa yang bakal duduk di sana. Seorang pewaris yang selama ini diam-diam mengamati dari jauh akhirnya melangkah masuk. Kerabat yang dulu meremehkannya kini berebut mendekat, tapi senyumnya tipis dan tangan kanannya tetap terkunci di saku. Harta warisan bukan tujuan utamanya, melainkan alat untuk membalas satu per satu. Setiap kebaikan palsu yang pernah dia terima dibayar dengan ketenangan yang mengerikan. Ketika pembagian warisan dimulai, ternyata yang paling berbahaya bukan yang berteriak paling keras, tapi yang paling lama menahan bicara. Dan dia baru saja membuka pintu.