Janji suci seharga lima puluh dolar jelas bukan awal dari ikatan perkawinan yang wajar. Ada transaksi dingin yang diam-diam menggantikan ketulusan, menyisakan tanya soal alasan sebenarnya di balik kesepakatan serba murah ini. Dua orang terikat kompromi ganjil. Tanpa pesta mewah atau restu keluarga, ikatan tersebut justru membuka rentetan persoalan baru yang rumit. Hubungan yang diawali hitung-hitungan materi perlahan menuntut taruhan yang jauh lebih mahal dari perkiraan awal. Mampukah kompromi murah ini bertahan saat kenyataan pahit mulai menagih harga sesungguhnya?