Seorang komandan militer bersikukuh istrinya hanya gadis desa polos yang lembut seperti domba. Ia bilang istrinya nggak ngerti obat-obatan apalagi senjata. Tapi semua orang yang pernah dirawat dan ditembak jatuh oleh wanita itu cuma bisa bilang komandannya buta. Sementara sang komandan masih kukuh istrinya nggak pernah membantah — meski dia sendiri sudah berlutut di papan sambil tetap jaim. Para ajudannya cuma bisa geleng-geleng kepala minta sedikit harga diri. Pertanyaannya, sebutir peluru dari istri atau setumpuk kebohongan suami, mana yang lebih mematikan?