Ariel Saban mati karena jadi orang yang terlalu penurut. Sekarang dia hidup lagi, dan tekadnya bulat: nggak bakal jadi pecundang dua kali. Dia pilih jadi bajingan. Tapi apa segampang itu berubah total? Orang-orang di sekitarnya masih ingat Ariel yang dulu, yang selalu bilang iya. Sementara aturan baru ini butuh nyali yang belum tentu dia punya. Kalau jadi jahat pun masih kalah, apa bedanya dengan hidup sebelumnya?