Hubungan kakak-adik yang retak total sejak peristiwa traumatis membuat adik menutup diri sepenuhnya. Kembalinya kakak setelah bertahun tahun membawa permintaan maaf yang tertahan dan harapan memperbaiki ikatan yang hancur. Adik harus memilih antara memegang kemarahan yang sudah jadi pelindungnya, atau mencoba mempercayai orang yang pernah melukainya. Bisakah pelukan yang lama ditunda itu cukup menutupi luka yang terlalu dalam untuk diungkapkan?