Seorang tokoh yang lama menahan dendam akibat luka masa lalu yang belum pernah terungkap secara terbuka. Dia menolak cara pembalasan fisik, memilih jalan yang lebih tak terduga: memanfaatkan suara hati yang selama ini terpendam. Setiap kata yang diucapkan, setiap pengakuan yang diungkapkan, menjadi senjata untuk meruntuhkan orang yang selama ini menyakitinya. Apakah jalan yang dipilih itu akan membawanya ke keadilan, atau justru ke kesalahan yang lebih besar?