Typo yang salah bisa berselubung misteri. Di balik layar, ia justru menjadi kunci masuk ke dunia paralel—tempat tiap kesalahan berarti hidup, dan setiap koreksi bisa menghapusnya. Seorang penulis muda terserempet ke aksayaan itu, lalu terjebak antara benar dan salah, nyata dan fiksi. Ia harus memilih: betulkan kesalahan, atau biarkan dunia bersaerah tetap eksis. Apa harga yang harus dibayar untuk menulis ulang hidup sendiri? Seberapa jauh ia rela pergi sebelum menyadari bahwa ia bukan lagi penulis di dalam cerita ini?