Setiap pagi, sebuah gerbang batu bergetar saat ia melewati. Itu yang ia lakukan selama tujuh tahun — mengawapnya, melangkah melewati, lalu kembali. Gerbang itu tidak pernah disebut. Tak ada nama, tak ada teks, tak ada tanda-tanda apa pun yang memberi tahu siapa atau apa yang terjebak di baliknya. Hanya getaran. Dan suara. Sesaat-sesekali, terdengar langkah kaki, desis kertas, atau desau lembut — seperti ada sesuatu yang mencoba berkomunikasi. Lalu suatu hari, ia tidak datang. Teman-temannya yang juga berjaga tidak percaya. Mereka beralih ke protokol darurat, meninggalkan simbol-simbol, menghitung hari. Tapi tugasnya tidak bisa diisi. Bukan karena kehilangan jalan. Tapi karena ia tahu — benar-benar tahu — bahwa gerbang itu tidak menahan apa pun yang jahat. Ia sedang menjaga sesuatu yang terlalu lemah untuk melarikan diri. Tapi kemarin, ia menerima pesan. Ditulis dengan tinta yang masih mengkilap, ditempatkan persis di depan pintu. Isinya hanya satu baris. Dan tiba-tiba ia mengerti: yang ditakdirkan menjaga, bukan untuk menjaga. Tapi untuk ditunggu. Siapa yang mengirim pesan itu? Dan apa yang benar-benar terjadi jika ia tidak kembali?